PENTINGNYA PUPUK ORGANIK, HAYATI DAN PEMBENAH TANAH

Last updated: 28 February 2019  |  16:49

PENTINGNYA PUPUK ORGANIK, HAYATI DAN PEMBENAH TANAH DEMI TINGKATKAN

PRODUKTIVITAS PADI BERKELANJUTAN

Jakarta (27/2), Dimensi keberlanjutan (sustainability), bersahabat dengan lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial sudah menjadi arus utama pembangunan agribisnis. Pembangunan agribisnis berkelanjutan hanya dapat dipertahankan dengan menjaga lahan pertanian tetap subur, sehat dan produktif. Dalam konteks inilah kita harus mempunyai perhatian serius terhadap pentingnya penggunaan pupuk organik, pupuk hayati dan pembenah tanah demi meningkatakan produktivitas padi berkelanjutan. Bahasan tersebut menjadi sorotan diskusi panas dalam acara “Forum Diskusi AGRINA” di Hotel Sahati, Jakarta (27/2/2019).

Mantan Menteri Pertanian, Bungaran Saragih mengatakan bahwa penjualan, penyerapan serta aplikasi pupuk organik sampai saat ini relatif sedikit, lambat pertumbuhannya dan cenderung stagnan. “Dari alokasi subsidi pupuk organik yang mencapai 1 juta ton dalam beberapa tahun terakhir, realisasi penyerapannya baru sekitar 600 ribu-800 ribu ton/ tahun” katanya dalam Forum Diskusi AGRINA. Menurutnya penggunaan pupuk organik, hayati dan pembenah tanah tidak saja untuk meningkatkan produktivitas padi tetapi dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani serta sebagai upaya mengentaskan kemiskinan.

Direktur Pupuk dan Pestisida, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementrian Pertanian, Muhrizal Sarwani mengatakan bahwa pemerintah mendorong penggunaan pupuk organik melalui pemberian subsidi sejak 2008. “Awalnya kualitas memang dikeluhkan tetapi sekarang mutu sudah lebih baik. Untuk mengatasi persoalan mutu pupuk organik, hayati dan pembenah tanah, Kementan telah mengeluarkan Permentan No. 1 Tahun 2019 tentang Pendaftaran pupuk organik, pupuk hayati dan pembenah tanah” ujar Muhrizal.

Sementara itu, Arif Fauzan, Direktur Teknik dan Pengembangan PT. Petrokimia Gresik memaparkan “Forum dunia mengamanatkan kepada kita untuk menggunakan N (Nitrogen) seefisien mungkin karena 50% yang kita gunakan tertinggal di dalam tanah dan menguap ke udara, kita juga diminta untuk shifting ke organik, hayati dan bio agar tanah kembali sehat” ucap Arif.

Asosiasi Bio Agro Input Indonesia (ABI) juga turut berpartisipasi dalam Forum Diskusi Agrina. Dhini Yulliyantika, AGRO Organic Farming Technical Consultant ABI menegaskan “Kami sebagai asosiasi yang mewadahi produsen pupuk dan pestisida hayati memiliki teknologi tersendiri dalam hal pupuk organik, pupuk hayati dan pembenah tanah guna meningkatkan produktivitas padi. Kami telah mengadakan berbagai kegiatan seperti mengadakan demoplot kegiatan padi sehat, padi di kawasan terpapar abu vulkanik hingga padi lahan rawa rentan pirit”, ujar Dhini. Beliau juga menambahkan kegiatan demoplot tersebut tidak terlepas sebagai upaya ABI untuk sosialisasi serta penyuluhan langsung terhadap petani terhadap penggunaan pupuk organik, pupuk hayati dan pembenah tanah yang dirasa masih perlu ditingkatkan.

Ketua Umum KTNA Nasional, Winarno Tohir mengatakan perlunya perpaduan antara organik dan anorganik. Kita juga perlu penyuluh yang sekarang jumlahnya semakin menyusut. “Bahasanya kalau ke petani tentu harus beda, dibuat bahasa petani”. (Red)