HASIL FANTASTIS, ABI PANEN PADI GOGO DAN KENTANG

Last updated: 04 February 2019  |  09:48

HASIL FANTASTIS, ABI PANEN PADI GOGO DAN KENTANG DI LAHAN TERPAPAR ABU VULKANIK GUNUNG SINABUNG

                                                                        

Karo (7/1) Asosiasi Bio Agro Input Indonesia (ABI) kembali sukses melakukan panen di lahan yang terpapar abu vulkanik Gunung Sinabung setelah sebelumnya berhasil dengan tanaman jagung. Ketebalan abu yang mencapai 5-10 cm di lahan kentang dan padi, bukan halangan untuk terus berupaya memaksimalkan produktivitas. Terletak di Desa Kuta Rakyat, Kecamatan Namantran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, ABI memanen 2,000 batang kentang yang menghasilkan 1,5 Kg/batang pohon. Padahal biasanya pada pertanaman konvensional hanya mampu panen sekitar 700 gram per batang. Tidak jauh dari lahan kentang, ABI juga turut panen padi gogo di Desa Payung, Kecamatan Tigadreket, Kabupaten Karo. Hasilnya pun menakjubkan yakni 6,080 Ton/hektar dari yang sebelumnya dengan pertanaman konvensional hanya menghasilkan 3-4 Ton/hektar.

Panen padi gogo dan kentang di lahan terpapar abu vulkanik mendapat dukungan dari Dinas Pertanian Kab. Karo, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) serta Bintara Pembina Desa (Babinsa). Bukan tanpa kendala, di lahan yang hanya ber-radius sekitar 4-5 km dari pusat erupsi mengakibatkan tanah yang diselimuti abu vulkanik memiliki struktur tanah yang cenderung lebih padat terutama jika terkena air, sehingga diperlukan dua kali pengolahan tanah sebelum ditanami. Selain itu abu vulkanik mengandung unsur mayor berupa alumunium, silika, kalium, dan besi serta unsur minor berupa iodium, magnesium, mangan, natrium, fosfor dan lainnya yang jika dalam jumlah banyak dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.

Keberhasilan panen kali ini tidak terlepas dari ABI yang mengusung konsep budidaya organik ramah lingkungan. ABI memiliki teknologi tersendiri untuk mengatasi berbagai permasalahan di lahan, seperti penggunaan bahan organik sebelum tanam dapat membantu penyerapan unsur hara dan memperbaiki kualitas tanah. Di samping itu, pengurangan produk berbahan kimia yang diganti dengan produk hayati terbukti efektif dan efisien mengurangi biaya pengeluaran, hasil panen lebih sehat, tidak membunuh musuh alami di lahan dan dijamin ramah bagi lingkungan.

Anton, selaku petani kentang Kab. Karo mengatakan kepuasannya terhadap hasil panen saat ini dan tidak menyangka bahwa lahan terpapar abu vulkanik dapat menghasilkan produktivitas maksimal. Untuk ke depannya beliau dan petani lainnya akan terus menerapkan pertanian ramah lingkungan karena sudah terbukti menguntungkan.

Back